Portal Desa Temon

BHUMI JAMPI GIRI MUKTI

Sejarah & Asal-Usul Desa Temon

Menyelami Jejak Masa Lalu di Bhumi Jampi Giri Mukti

“Sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang menang, tetapi oleh mereka yang siap sedia untuk mengenang.”

Menelusuri jejak masa lalu Desa Temon adalah sebuah perjalanan menyelami kearifan lokal yang kaya. Sebagai desa yang berada di "atap" Kecamatan Arjosari, Desa Temon menyimpan ragam versi mengenai asal-usulnya. Keberagaman cerita ini bukanlah sebuah pertentangan tentang mana yang benar atau salah, melainkan bukti kekayaan budaya tutur yang diwariskan leluhur secara turun-temurun.

Berikut adalah perjalanan sejarah Desa Temon, mulai dari catatan kolonial hingga legenda rakyat yang melegenda.


1. Jejak Terkutub : Catatan Tahun 1847

Secara administratif dan kewilayahan, eksistensi nama "Temon" bukanlah hal baru. Nama ini telah tercatat secara resmi dalam dokumen kolonial Belanda sejak abad ke-19.

Peta Pacitan yang dibuat kurang labih pada tahun 1879
Peta Pacitan kurang lebih tahun 1879

Bukti otentik ini terdapat dalam laporan "Toelichtende Aanteekeningen Behoorende bij de Kaart van het Eiland Java 1847". Dokumen ini mencatat keberadaan wilayah Temon saat masih berada di bawah Karesidenan Pacitan, tak lama setelah Perang Diponegoro (Perang Jawa) berakhir pada tahun 1830. Hal ini mengonfirmasi bahwa Desa Temon telah memiliki tatanan sosial yang mapan sejak era tersebut.


2. Babad Alas : Empat Versi Legenda Rakyat

Di balik catatan resmi, hidup pula "Sejarah Tutur" yang diwariskan para sesepuh desa. Ada empat versi populer mengenai bagaimana nama "Temon" tercipta, yang masing-masing memiliki nilai filosofis tersendiri.

Versi I : Legenda Pendhem Buto & Pertempuran Ngobaran

Versi ini bernuansa heroik dan mistis, menceritakan pertempuran dua pengembara sakti, Mbah Egrang dan Mbah Nyai Rangkong, melawan sesosok raksasa (Buto) penguasa wilayah tersebut.

  • Asal Nama Ngobaran : Pertempuran sengit terjadi di Dusun Krajan Kidul. Intensitas pertarungan yang "berkobar-kobar" kemudian mengabadikan nama daerah tersebut menjadi Ngobaran.

  • Asal Nama Pendhem Buto : Kedua pengembara menggunakan pusaka Bamban dan Wowo. Pertarungan berakhir tragis dengan tewasnya ketiga tokoh akibat jurus pamungkas Ajisaka. Tubuh raksasa tersebut terpental dan jatuh di suatu lokasi di Dusun Krajan Kidul, yang kini dikenal sebagai Pendhem Buto (Raksasa Terpendam). Peristiwa inilah yang diyakini sebagai awal mula pembukaan lahan atau Babad Alas Temon.

Makam Mbah Rangkong

Makam Mbah Egrang

Versi II : Kisah Mbah Kembang & Sang Pencuri

Versi kedua lebih dekat dengan dinamika sosial masyarakat. Alkisah, terjadi pengejaran seorang pencuri yang meresahkan warga. Mbah Kembang, tokoh masyarakat setempat, mengikuti sayembara dan berhasil menangkap pencuri tersebut di dekat Masjid Jami (kini Krajan Lor).

  • Filosofi Nama : Keberhasilan "menemukan" (nemoni atau ketemu) pencuri tersebut menjadi dasar nama Temon (yang berarti: Temu/Ketemu).

  • Pasca peristiwa ini, Mbah Kembang dihormati dan diangkat sebagai Kepala Desa pertama.

Makam Mbah Kembang di Krajan Lor

Versi III : Tanah Penawar Obat (Bhumi Jampi)

Versi ini selaras dengan kondisi geografis Temon yang subur. Dikisahkan seorang pengembara yang putus asa mencari obat bagi penyakitnya. Setelah perjalanan panjang, ia tiba di dataran tinggi ini dan "menemukan" (nemoni) tanaman obat yang dicari.

  • Karena wilayah ini menjadi tempat ditemukannya penyembuh, maka desa ini dijuluki Temon (Tempat ditemukannya sesuatu yang berharga/obat).

Versi IV : Ki Ampel Rogo & Hutan Empon-Empon

Versi terakhir datang dari tokoh religius, Ki Ampel Rogo. Dalam pengembaraannya, ia dihadang kawanan perampok di dataran tinggi ini. Pertarungan dimenangkan Ki Ampel Rogo, di mana pemimpin perampok tewas tertimbun longsoran jurang.

  • Melanjutkan perjalanan, Ki Ampel Rogo takjub karena menemukan wilayah yang dipenuhi tanaman rempah (empon-empon), khususnya Temu Bathok.

  • Banyaknya tanaman "Temu" inilah yang mendasari penamaan Desa Temon.


Epilog

Keempat versi di atas, meski berbeda alur, bermuara pada satu kesimpulan. Desa Temon adalah wilayah yang "ditemukan" karena keistimewaannya, baik itu karena kemenangan melawan kebatilan, kekayaan alamnya, maupun tanaman obatnya. Kini, tugas generasi penerus adalah menjaga warisan cerita ini agar tetap hidup di tengah kemajuan zaman.